" Dimana dia ? Apa yang dilakukannya? Bersama siapa ? Apakah dia sudah makan ? Bukankah ini sudah terlalu larut... "
Hal itu yang terus mengusik sanubari kedua insan tersebut, rasa kuatir, cemas, kecewa, dan cinta berkecamuk dalam diri mereka. Hati mereka, tersayat, selembar demi selembar seiring detik yang tetap melaju dengan angkuhnya. Amarah mereka sudah tidak bisa tertahan lagi, pikiran mereka melayang, terbayang marahan dan makian yang akan mereka ucapkan. Mereka kecewa ! Kepercayaan yang mereka berikan, dibalas dengan sebuah kesombongan.
Pagar berbunyi, terdengar seseorang membukanya. Setetes harapan mengalir dalam sanubari kedua insan tersebut. Pintu terbuka, sesosok lelaki dengan wajah tertunduk, berusaha tersenyum kepada mereka. Lunturlah amarah dan makian yang melayang-layang dalam pikiran keduanya sedari tadi. Dengan suara bergetar, mereka berusaha bertanya. Tidak ada amarah, tidak ada makian. Sang lelaki berusaha menjawab, dia berusaha meyakinkan, bahwa dirinya baik-baik saja. Keduanya tetap terus bertanya. Apa penyebabnya ? Kenapa ? Ada apa ?. Sang lelaki, berusaha mengimbangi kegelisahan kedua insan tersebut, walau hanya dengan jawaban singkat.
Sang insan lelaki, mengambil sebuah sikap. Tegas ! ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada peraturan. Dia menawarkan perjanjian kepada lelaki tersebut. Lelaki tersebut menerimanya. Kedua insan tersebut, menatap penuh harap kepada lelaki tersebut. Ya, hanya harapan. Mereka semakin senja, tidak lama lagi mereka bisa berkorban demi lelaki tersebut, membuatnya aman dari dunia yang siap menerkam. Perbekalan telah mereka siapkan, Iman terus mereka ajarkan, dan Doa terus mereka lantunkan. Hanya demi lelaki itu.
Kedewasaan adalah pengorbanan, sebuah beban yang semakin berat seiring untaian waktu. Bukan keuntungan, bukan pembalasan, bukan pula sebuah ketenaran. Hanya sebuah harapan, akan masa depan yang cerah. Bukan untuk mu, tapi untuk mereka yang kau sayangi.
Kedewasaan adalah pengorbanan, sebuah beban yang semakin berat seiring untaian waktu. Bukan keuntungan, bukan pembalasan, bukan pula sebuah ketenaran. Hanya sebuah harapan, akan masa depan yang cerah. Bukan untuk mu, tapi untuk mereka yang kau sayangi.
" Tuhan, aku berterima kasih atas hari ini. Atas segala penyertaan-Mu, atas segala perlindungan-Mu, sehinggga pada hari ini, aku masih bisa berkumpul dengan mereka. Tuhan, aku tahu, aku telah salah. Kemunafikkanku telah menyakiti mereka yang menyayangiku. Maafkan aku. Tuhan, bila hari depan masih tersedia. Bantu aku, tuntun langkahku, kuatkan aku. Agar aku bisa membahagiakan mereka dan Engkau. Teguhkan dan kuatkan langkahku. Teguhkan dan kuatkan langkahku. Terima kasih Tuhan, Amin. "
for my beloved parents
Thanks dad, mom. I love you.God bless Us !
Thanks dad, mom. I love you.God bless Us !








0 comments:
Posting Komentar